Saturday, July 26, 2014

8:31 AM


Penjual Asongan

Satu minggu yang lalu saya menyempatkan diri berkumpul bersama teman sejawat waktu kami masih menempuh pendidikan sekolah dasar, rencana awal kami akan berjumlah tujuh orang, namun karena suatu lain hal tiga orang teman saya berhalangan hadir, salah satunya sibuk mempersiapkan keperluan yudisium sarjananya, dan dua yang lainnya sedang tertimpah musibah neneknya meninggal dunia pada hari yang sama saat kita mengagendakan acara buka puasa bersama.
Yah acara yang kita buat pada saat itu hanyalah sekedar kumpul-kumpul sambil buka puasa bersama ditempat yang biasa dikunjungi oleh pemuda-pemudi, sebut saja namanya Pantai Kering.Dipantai kering jangan cari deburan ombak, hembusan angin yang akan membuat rambut anda berhamburan, nyiur hijau yang melambai-melambai, apalagi kapal-kapal nelayan yang berlabuh didermaga, yang ada hanya deretan kursi-kursi dan penjual asongan yang senantiasa menawarkan dagangannya. Jangan tanya saya kenapa dinamakan pantai kering karena pasti anda akan mendapat jawaban sesuai kehendak saya yang hanya akan membuat anda tidak puas.
Dua jam kami habiskan untuk bernostalgia mengenang kisah-kisah kami selama masih duduk dibangku sekolah dasar. Kisah waktu kami masih anak-anak dahulu yang sekarang sudah menjadi pemuda-pemudi yang matang baik secara umur maupun tindakan apalagi pemikiran. Saya adalah pemuda berdarah bone dan dibesarkan oleh kebesaran nama bone, namun tempat ini merupakan tempat yang jarang aku datangi. Mungkin baru 1 atau 2kali saya berkunjung dipantai kering. Maklum saya bukanlah tipikal orang yang suka travelling apalagi kalau tempatnya hanyalah tempat-tempat yang dianggap biasa. Setelah saya berkunjung ditempat ini saya mendapatkan sebuah pengalaman baru yang menurutku cukup unik.
Ditempat ini saya bisa menemukan senyuman original, senyuman yang benar-benar disampaikan dari hati, bukan seperti senyuman-senyuman para pelakon adegan-adegan film sinetron. Mereka saling bercanda tawa satu sama lain, dan mengesampingkan ego masing-masing kalau ternyata mereka sedang bersaing mendapatkan pelanggan. Persaingan para pedagang asongan di pantai kering sangat berbeda dengan persaingan politik antara calon presiden. Persaingan mereka merupakan persaingan simbiosis mutualisme, sedangkan persaingan politik calon presiden, untuk menduduki posisi yang diinginkan calon presiden harus menumbangkan lawannya bagaimanapun caranya, dengan bantuan media merekapun akan memuluskan jalannya.
Senyuman setulus hati hanya bisa hadir jika dilandasi dengan kebahagiaan. Dan saya yakin hal seperti itu yang dirasakan oleh para penjual asongan dipantai kering. Saya kemudian beranggapan bahwa untuk memperoleh kebahagiaan tidak harus dengan bergelimang harta, tidak harus dengan memegang posisi tahta pemerintahan, namun kebahagiaan bisa hadir ditengah-tengah senyuman penjual asongan, kebahagiaan bisa hadir saat bernostalgia mengenang kisah-kisah yang pernah kita lakoni dimasa lalu. Jadi jika anda mengejar kebahagiaan tidak perlu jauh-jauh karena kebahagiaan ada pada senyuman tulus anda. Penjual asongan dipantai kering telah mengajarkan saya tentang kebahagiaan dengan senyumannya.
Bone, 23 Juli 2014

0 comments: